Pemerintah Indonesia telah menarik utang baru senilai Rp386 triliun hingga 31 Mei 2026. Realisasi ini digunakan untuk membiayai anggaran negara secara terukur.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,51 persen secara tahunan dibandingkan periode Mei 2025 yang mencapai Rp349,3 triliun.

>>> DPR Desak Audit Nasional Imigrasi Usai KPK Ungkap Korupsi Izin Tinggal WNA

Sementara itu, pembiayaan nonutang tercatat Rp6,5 triliun, sehingga total pembiayaan anggaran mencapai Rp379,4 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan rincian tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta.

"Neto utang sebesar Rp386 triliun dan jumlahnya semua pembiayaan anggaran sebesar Rp379,4 triliun," ujarnya.

Stabilitas Pasar Surat Utang

Kementerian Keuangan mencatat imbal hasil SBN tenor 10 tahun tetap stabil di level 6,68 persen. Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

>>> Pemerintah Perkuat Strategi Fiskal untuk Jaga Ketahanan APBN

Penawaran yang masuk dalam lelang SBN sepanjang 2026 juga terjaga.

Rata-rata bid to cover ratio mencapai 1,8 kali untuk lelang SUN dan 2,6 kali untuk lelang SBSN.

Menkeu Purbaya menegaskan bahwa pasar masih percaya pada surat utang negara. "Pasar kan gonjang-ganjing, tetapi penggemar SUN kita masih cukup banyak dan tidak ada kehilangan kepercayaan," tuturnya.

>>> 6 Barang Sederhana di Rumah yang Menunjukkan Orang Tua Baik

Ia menambahkan bahwa stabilitas ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. "Investor jangka panjang di capital market masih cukup percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia," pungkas Purbaya.