"Perak memiliki karakteristik yang lebih volatil dibandingkan emas.

Namun dalam fase bullish logam mulia, perak biasanya mampu mencatat kenaikan yang lebih agresif karena adanya faktor permintaan industri yang kuat," ungkapnya.

Untuk proyeksi harga, Wahyu memperkirakan emas spot berpeluang bergerak menuju kisaran US$ 4.900 hingga US$ 5.200 per ons troi pada akhir 2026.

Dalam skenario yang lebih agresif, harga emas bahkan berpotensi mendekati level US$ 6.000 per ons troi.

Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan berada pada rentang Rp 2,9 juta hingga Rp 3,3 juta per gram hingga akhir 2026.

Adapun harga perak diproyeksikan bergerak pada kisaran US$ 60 hingga US$ 90 per ons troi.

Jika pemulihan industri global berlangsung lebih cepat dan pasokan semakin ketat, harga perak berpeluang menembus level US$ 130 per ons troi.

Dibandingkan instrumen investasi lain, Wahyu menilai logam mulia memiliki posisi yang relatif lebih unggul dalam kondisi pasar saat ini.

Diketahui saat ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tren pelemahan signifikan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 4,20% ke level 5.594,77 pada Jumat (5/6/2026).

Yield SBN tenor 10 tahun juga sudah berada di level yang tinggi, yakni 6,9%.

Di tengah kondisi itu, menurutnya, saham masih menawarkan potensi keuntungan yang besar, tetapi disertai risiko volatilitas yang tinggi.

Sementara obligasi masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian suku bunga dan pelemahan nilai tukar.

>>> Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Lolos ke Final Indonesia Open 2026

"Untuk periode hingga akhir 2026, logam mulia berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih konsisten dan aman, atau cuan berbasis risiko, dibandingkan pasar saham secara umum maupun obligasi yang masih dibayangi tekanan makroekonomi dan volatilitas mata uang," tutup Wahyu.