Menurut Wahyu, terkoreksinya harga emas di saat pasar saham dan obligasi juga mengalami tekanan bukanlah fenomena yang aneh.

Salah satu penyebab utamanya adalah aksi likuidasi oleh investor institusi untuk memenuhi kebutuhan margin atau menutup kerugian pada aset lainnya.

Ketika pasar saham dan obligasi mengalami penurunan tajam, investor cenderung menjual aset yang masih likuid dan relatif stabil seperti emas guna memperoleh dana tunai dalam waktu cepat.

Selain itu, pergerakan harga emas juga dipengaruhi dinamika global.

Kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, memicu kekhawatiran inflasi yang membuat bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed), cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena selama beberapa tahun terakhir reli logam mulia banyak ditopang ekspektasi penurunan suku bunga global.

Prospek Jangka Panjang Emas dan Perak

Meski demikian, Wahyu menilai prospek jangka panjang emas masih tetap solid.

>>> Inggris Gelar Royal Wedding, Keponakan Raja Charles Nikahi Suster

Ia melihat koreksi yang terjadi pada kuartal II 2026 lebih merupakan fase konsolidasi sehat setelah reli yang sangat kuat pada tahun sebelumnya.

Menurut dia, terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan arah harga emas hingga akhir 2026, yakni kebijakan suku bunga dan pergerakan yield riil Amerika Serikat (AS), tren pembelian emas oleh bank sentral global, serta ketidakpastian geopolitik dan tensi perdagangan internasional.

Di sisi lain, prospek perak juga dinilai tetap menjanjikan. Wahyu mengatakan pandangan bahwa perak memiliki potensi kenaikan lebih tinggi dibandingkan emas masih relevan hingga saat ini.

Hal tersebut didukung oleh kondisi defisit pasokan global yang telah berlangsung selama lima hingga enam tahun berturut-turut, sementara permintaan industri terus meningkat, terutama dari sektor panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).