Pemerintah Iran mendesak Israel segera menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan. Sikap ini menjadi prasyarat utama dalam negosiasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa stabilitas regional tidak akan tercapai tanpa penyelesaian konflik di Lebanon.

>>> Menteri Keuangan Purbaya Selidiki Penurunan Omzet Warteg di Jakarta

"Perang ini hanya akan berakhir jika perang di Lebanon juga berakhir," ujarnya dalam wawancara dengan Al Mayadeen.

Araqchi juga mendesak penghentian total operasi militer Israel dan penarikan pasukan dari wilayah pendudukan.

Pernyataan ini merespons penolakan pemimpin Hizbullah Naim Qassem terhadap draf perdamaian AS yang dianggap mengabaikan Hizbullah.

Dukungan Iran untuk Hizbullah

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyebut Hizbullah sebagai mitra strategis utama. "Hizbullah telah berkorban besar dan kami berkomitmen penuh kepada mereka," katanya seperti dikutip Mehr.

>>> PT KAI Luncurkan Kereta Ekonomi Kerakyatan KA Cikuray Mulai 10 Juni 2026

Rezaei memperingatkan Israel agar tidak membombardir Beirut. "Mereka harus memahami bahwa Lebanon akan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kesepakatan," tegasnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melihat perkembangan positif dalam resolusi konflik Lebanon. "Ini sudah berlangsung sangat lama," katanya kepada wartawan.

Dampak Ekonomi dan Blokade Selat Hormuz

Konflik sejak 28 Februari telah mengganggu stabilitas ekonomi global. Blokade Selat Hormuz oleh Iran mengurangi volume perdagangan minyak dan LNG dunia.

Program Pangan Dunia PBB memperingatkan lonjakan ongkos logistik dan bahan bakar yang berpotensi memperluas kelaparan. AS dan Iran masih berdialog soal pembebasan aset minyak, sanksi, dan pengayaan uranium.

>>> Telkomsel Operasikan 361 BTS Bertenaga Surya pada 2025

Trump menegaskan Washington memiliki posisi kuat tanpa perlu perjanjian formal. Iran membantah tuduhan program nuklir dan menyebut Selat Hormuz sebagai "bom atom" mereka.