Iran melancarkan serangan terhadap Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Serangan ini menargetkan aset militer AS yang berada di negara-negara tersebut.

Akibatnya, kilang minyak dan pembangkit listrik rusak parah. Rystad Energy memperkirakan kerugian mencapai US$58 miliar pada April lalu, belum termasuk kerusakan terbaru.

>>> Tato 'Celeste' di Jari D4vd Terungkap di Sidang

Meski para pemimpin Arab mengecam serangan itu, mereka tidak membalas secara militer. Hesham Sallam dari Stanford University mengatakan hal itu karena mereka enggan menanggung biaya eskalasi lebih lanjut.

"Eskalasi lebih lanjut dengan Iran akan menimbulkan biaya yang tidak ingin ditanggung oleh pemerintah-pemerintah tersebut," ujar Sallam.

>>> Wali Wendy Williams Selesaikan Gugatan Hukum dengan A&E soal Dokumenter

Negara-negara Teluk telah membangun legitimasi di sekitar visi pertumbuhan, investasi, dan pariwisata. Konflik dengan Iran dapat membahayakan proyek modernisasi yang telah mereka investasikan besar-besaran.

Mantan Dubes Australia untuk Lebanon, Ian Parmeter, menambahkan bahwa negara-negara Arab sadar intervensi hanya akan memperpanjang perang. Mereka harus hidup berdampingan dengan Iran sebagai tetangga.

>>> Jadwal Timnas Indonesia vs Vietnam dan Kamboja di Piala AFF 2026

"Mereka harus hidup berdampingan dengan Iran," kata Parmeter.