Iran mulai merasakan dampak perang dengan Amerika Serikat. Di tengah konflik yang memanas, negara itu menghadapi risiko memburuknya perekonomian yang bisa memicu ketidakpuasan masyarakat.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui negaranya mendapat tekanan ekonomi besar akibat perang. Dampaknya tidak hanya di sektor pertahanan, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari.

>>> Skandal Piala Dunia Makin Panas, Gianni Infantino Dituntut Mundur dari FIFA

"Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh," katanya, dikutip Rabu (22/7/2026).

Pezeshkian khawatir tekanan ekonomi yang berkepanjangan akan memperburuk kondisi sosial. Ia menegaskan pemerintah tidak bisa mengabaikan kesejahteraan rakyat di tengah konflik.

"Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan," ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap negara. "Jika tekanan ekonomi menimbulkan ketidakpuasan sosial dan menyebar, modal sosial yang besar dapat rusak," ujar Pezeshkian.

>>> AS Siap Respons Ancaman Houthi Blokade Laut Merah, Perang Iran Memanas

Karena itu, menjaga persatuan nasional menjadi prioritas utama selama konflik dengan AS berlangsung.

Tekanan terhadap Iran terus meningkat akibat serangan Washington. AS melanjutkan blokade pelabuhan serta menyerang infrastruktur penting, termasuk jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan terowongan.

Dampaknya terlihat pada kondisi ekonomi nasional. Tingkat pengangguran meningkat sejak konflik pecah, sementara mata uang Iran kembali ke titik terendah.

>>> Iklan Kylie Jenner untuk Kacamata Meta Diubah Jadi Peringatan Pengawasan

Inflasi tahunan Iran bulan lalu mencapai sekitar 88 persen. Kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan dukungan masyarakat di tengah konflik berkepanjangan.