Amerika Serikat disebut-sebut tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan perang panjang dengan Iran setelah saling tempur sejak Februari.

Peneliti senior Cato Institute, Katherine Thompson, mengatakan potensi perang panjang AS dengan Iran akan terhambat karena stok rudal jarak jauh dan amunisi pertahanan udara menipis.

>>> PSIM Yogyakarta Resmi Rekrut Gelandang Polandia Adrian Purzycki

"Waktu adalah faktor utama di sini.

Jika ini berlanjut selama berminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja," kata Thompson dikutip New York Post, Senin (20/7).

"Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi," ujarnya.

Thompson menggarisbawahi serangan mematikan Iran baru-baru ini yang menyebabkan dua anggota militer AS tewas.

AS menghadapi tantangan logistik untuk melindungi sekitar 50.000 pasukan mereka di Timur Tengah.

"Ini menunjukkan dampaknya ke persediaan kita yang digunakan untuk melindungi kehadiran tersebut, karena serangan balasan masih terus terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan," ujar dia.

Pakar itu juga mencatat sebagian besar rudal AS yang digunakan untuk meluncurkan serangan ke Iran selama enam hari pertama, yang diklaim Trump berhasil merontokkan sistem persenjataan Teheran.

Namun, Iran justru menunjukkan pertahanan mereka dengan terus membalas gempuran AS.

>>> Piala Dunia 2026 Ubah Ranking FIFA, Spanyol 'Tendang' Prancis dari Puncak

"Ternyata, Iran masih punya akses ke rudal dan drone.

Serangan balasan [Iran] tidak akan besar di hari-hari awal perang, tetapi mereka menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang," ujar Thompson.

Sejak beberapa bulan lalu, para pakar sudah mewanti-wanti pemerintahan Donald Trump soal stok rudal pencegat selama perang dengan Iran.