Gelombang kritik terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin deras. Hal ini menyusul berbagai kontroversi yang mewarnai Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Presiden La Liga, Javier Tebas, secara terbuka meminta Infantino mengakhiri masa kepemimpinannya. Menurut Tebas, Infantino telah membawa FIFA ke arah yang merugikan sepak bola dunia.

>>> AS Siap Respons Ancaman Houthi Blokade Laut Merah, Perang Iran Memanas

"Menurut saya, ya. Saya pikir waktunya sudah habis," kata Tebas, dikutip dari La Gazzetta dello Sport, Rabu (22/7/2026).

Meski demikian, Tebas mengakui peluang pergantian kepemimpinan masih kecil. Infantino dinilai masih mendapat dukungan kuat dari banyak federasi sepak bola nasional.

"Tidak ada kandidat penantang. Tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah.

Dia seharusnya tidak bertahan, tetapi situasi saat ini membuatnya tidak akan pergi," ujarnya.

Sorotan terhadap Infantino semakin tajam setelah muncul kontroversi penangguhan hukuman striker Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan itu disebut terjadi setelah intervensi Presiden AS Donald Trump kepada Infantino.

Menurut Tebas, kasus tersebut berpotensi menjadi skandal besar yang bisa mengguncang posisi Infantino. Beruntung, Amerika Serikat gagal melaju lebih jauh setelah kalah dari Belgia.

"Penangguhan larangan bermain pemain itu benar-benar persoalan serius. Mereka beruntung.

Untungnya Belgia menyingkirkan Amerika Serikat. Kalau tidak, kasus itu bisa saja membuat dia kehilangan jabatannya," katanya.

>>> Iklan Kylie Jenner untuk Kacamata Meta Diubah Jadi Peringatan Pengawasan

Kontroversi ini juga mendapat kritik keras dari UEFA. FIFA dinilai telah mengambil keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Perselisihan ini disebut menjadi salah satu alasan Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak hadir di Final Piala Dunia 2026.