Investor jangka panjang melepas kepemilikan Bitcoin senilai US$ 2,4 miliar dalam dua hari terakhir. Aksi jual ini memperdalam tekanan pada aset kripto tersebut, Kamis (4/6/2026).

Data analis Compass Point, Ed Engel, menunjukkan 26 persen dari Bitcoin yang terjual dalam 30 hari terakhir berasal dari investor yang membeli di harga di atas US$ 90.000 per koin.

>>> Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Kalahkan Unggulan Malaysia di Indonesia Open 2026

Penjualan besar ini berdampak signifikan pada keseimbangan pasokan dan permintaan.

"Dalam dua hari terakhir, mereka telah menjual sekitar US$ 2,4 miliar Bitcoin. Hal ini memberikan dampak besar pada keseimbangan pasokan dan permintaan," ungkap Engel.

Langkah investor besar untuk menyerah dipandang sebagai indikator bahwa fase penurunan harga panjang akan segera berakhir.

"Kapitulasi investor besar ini memberi kami keyakinan lebih bahwa bear market Bitcoin sudah berada di tahap akhir," tambahnya.

Divergensi dengan Pasar Saham

Kondisi pasar kripto saat ini berbeda dengan pasar saham yang mencatatkan rekor baru.

Bitcoin masih berjuang untuk kembali ke level tertinggi di atas US$ 126.000 yang dicapai pada Oktober lalu.

>>> IHSG Anjlok 3,86 Persen ke Level Terendah Sejak 2020

Ketidakpastian akibat perang di Iran menjadi faktor utama penekan harga Bitcoin. Hal ini juga memicu skeptisisme terhadap narasi Bitcoin sebagai emas digital.

Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin mengalami arus keluar selama 12 hari berturut-turut.

Total aset bersih di ETF Bitcoin merosot menjadi US$ 85 miliar dari sebelumnya US$ 107,8 miliar pada 14 Mei 2026.

Analis Citi Alex Saunders menekankan bahwa arus dana ETF saat ini menjadi penggerak utama harga Bitcoin.

"Arus dana baru-baru ini negatif, dan peluang pengesahan RUU struktur pasar AS yang diharapkan bisa menjadi katalis minat investor juga kian menipis," jelas Saunders.

Fluktuasi tajam sejak awal tahun 2026 dipicu oleh kebijakan moneter, sentimen regulasi, serta dinamika ekonomi makro global.

>>> Peneliti Universitas Jember Temukan Tanaman Kalimantan Penurun Gula Darah

Sentimen pasar diprediksi tetap lesu kecuali ada perkembangan positif dari sisi regulasi atau meningkatnya kekhawatiran fiskal global.