Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan baru yang melibatkan manuver diplomatik antara Amerika Serikat, Iran, dan Oman.

Ketegangan ini memuncak setelah Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan keras pada 27 Mei 2026.

>>> Pabrik BYD di Subang Resmi Beroperasi 2026, Target Produksi 150.000 Unit per Tahun

Trump menegaskan bahwa Oman harus mengikuti standar internasional atau akan menghadapi tindakan militer drastis dari Washington.

Reaksi keras ini dipicu oleh upaya Oman dan Iran yang menjajaki kerangka pengelolaan bersama Selat Hormuz tanpa melibatkan AS.

Bagi Trump, langkah diplomatik antara Muscat dan Teheran bukan sekadar urusan antarnegara tetangga. Ia memandangnya sebagai ancaman bagi pengaruh AS di kawasan.

Tiga Lapisan Pertempuran Kepentingan di Selat Hormuz

Konflik di Selat Hormuz saat ini tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah jalur pelayaran. Terdapat tiga lapisan kepentingan yang saling mengunci.

  • Aspek Ketahanan Energi Dunia: Sekitar seperlima total perdagangan minyak global melintasi jalur sempit ini setiap hari.
  • Diplomasi Transaksional: Akses pelayaran di Hormuz mulai dijadikan instrumen tawar-menawar dalam negosiasi besar antara Iran dan AS.
  • Arsitektur Tatanan Jangka Panjang: Pertarungan mengenai siapa yang berhak merancang struktur permanen pengelolaan kawasan pasca-konflik.

Setiap gangguan kecil di selat ini langsung memengaruhi persepsi risiko sistem energi global. Trump memantau pergerakan harga minyak setiap hari karena dampaknya terhadap pasar modal.

Pergeseran fungsi selat dari hak bersama menjadi alat tukar politik menunjukkan perubahan paradigma diplomatik yang signifikan. Trump tidak akan menerima jika transaksi itu mengecualikan posisi strategis AS.

Pertarungan paling menentukan adalah mengenai siapa yang berhak menentukan aturan main di masa depan.

Jika Iran dan Oman berhasil membentuk pengelolaan mandiri, hal itu akan mengubah peta tatanan regional.