Raksasa otomotif Jepang, Toyota, kembali mencatatkan penurunan penjualan global pada April 2026. Angka tersebut melanjutkan tren negatif selama tiga bulan beruntun.

Berdasarkan data resmi perusahaan, total kendaraan yang terjual secara global mencapai 849.306 unit. Jumlah itu turun 3,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

>>> Aturan SPMB Jakarta 2026: Hanya Sertifikat Lomba Ini yang Resmi Diakui Berbobot Prestasi

Penurunan lebih tajam terjadi di luar pasar domestik Jepang. Penjualan di pasar internasional merosot hingga 7,5 persen, dengan total 699.382 unit terkirim ke konsumen.

Dampak di Pasar China dan Timur Tengah

Dua wilayah utama menjadi pemicu lesunya penjualan Toyota: China dan Timur Tengah. Di China, persaingan ketat dengan merek lokal yang agresif dalam kendaraan listrik menjadi hambatan besar.

Sementara itu, ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi di Timur Tengah menekan permintaan kendaraan. Kombinasi faktor ini menggerus kontribusi penjualan internasional Toyota secara signifikan.

>>> Viral Gebby Vesta Diduga Diperas Sopir Taksi di Bali, Publik Heboh

Jika menghitung penjualan grup termasuk Daihatsu, totalnya turun 3,7 persen menjadi 902.015 unit. Artinya, perlambatan tidak hanya melanda merek utama Toyota, tetapi juga seluruh ekosistem grup.

Faktor utama yang menghambat pertumbuhan Toyota di pasar global meliputi dominasi merek lokal China dengan teknologi EV mutakhir, harga kompetitor yang lebih terjangkau, ketidakpastian ekonomi Timur Tengah, serta pergeseran preferensi konsumen ke elektrifikasi.

Selain persaingan produk, gangguan produksi di Jepang sempat memperpanjang waktu tunggu konsumen domestik. Penghentian sementara di beberapa pabrik menyebabkan inden lebih lama.

>>> Investasi Tembus Rp2.430 T, Teddy Beberkan 7 Hasil Diplomasi Prabowo

Kini, manajemen Toyota fokus menyeimbangkan produksi kendaraan konvensional dengan percepatan elektrifikasi. Tanpa langkah strategis, dominasi global mereka terancam terus tergerus.