Faktor-faktor yang memperburuk sentimen pasar saat ini meliputi geopolitik Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi, tingginya harga komoditas yang meningkatkan beban subsidi energi, serta kekhawatiran posisi keuangan Jepang semakin tertekan untuk menutupi defisit anggaran.

>>> Wuling Pamerkan Mobil Listrik Edisi Khusus Disney dan Marvel di Kelapa Gading

Louis Chua dari Julius Baer menambahkan bahwa kombinasi faktor eksternal tersebut memperburuk pandangan investor terhadap posisi fiskal Jepang.

Pasar kini lebih waspada terhadap setiap langkah belanja yang diumumkan pemerintah.

Optimisme di Tengah Tekanan Ekonomi

Meskipun pasar obligasi memanas, beberapa analis tetap memiliki pandangan positif terhadap fundamental ekonomi Jepang.

Krishna Bhimavarapu dari State Street Investment Management menilai anggaran tambahan tersebut bukan stimulus ekonomi yang bersifat luas.

Menurutnya, bantuan tersebut adalah langkah taktis yang ditargetkan khusus untuk rumah tangga yang terhimpit kenaikan harga energi.

Langkah ini dinilai masih sejalan dengan filosofi ekonomi PM Takaichi yang berhati-hati dalam mengelola fiskal.

Data pertumbuhan ekonomi Jepang terbaru menunjukkan indikator positif.

Pertumbuhan ekonomi tahunan kuartal pertama mencapai 2,1 persen, kenaikan PDB riil dari kuartal sebelumnya sebesar 0,5 persen, dan kenaikan ekspor April secara tahunan mencapai 14,8 persen.

Tabel tersebut menunjukkan bahwa secara struktural ekonomi Jepang sedang menunjukkan tren pemulihan yang cukup solid.

Pertumbuhan ekspor yang kuat didorong oleh tingginya permintaan global terhadap semikonduktor dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Namun, tantangan besar tetap membayangi.

>>> BCA Buka Pendaftaran Beasiswa Bakti 2026, Mahasiswa Bisa Dapat Bantuan Dana Pendidikan

Fokus utama kini beralih pada potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) guna meredam inflasi, serta kemungkinan pasokan obligasi baru yang bisa terus menekan pasar surat utang.