Pasar finansial Jepang tengah berada dalam kewaspadaan tinggi setelah imbal hasil surat utang pemerintah melonjak ke titik tertinggi dalam beberapa dekade.

Investor mulai khawatir terhadap stabilitas fiskal negara tersebut.

>>> Peran Strategis Pembina Teknis Perbendaharaan Negara 2026: Resmi dan Terbaru!

Tekanan pasar semakin kuat seiring rencana pemerintah menggulirkan kebijakan anggaran baru untuk merespons dinamika ekonomi global.

Pemicu Lonjakan Yield Obligasi Jepang

Kenaikan yield dipicu oleh rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi yang ingin menyiapkan anggaran tambahan sebesar 3 triliun yen atau setara Rp338,54 triliun.

Dana tersebut dialokasikan untuk membantu masyarakat terdampak lonjakan biaya hidup akibat kenaikan harga energi global.

Konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah menjadi faktor utama di balik melambungnya harga bahan bakar dan utilitas.

Meski bertujuan mulia, kebijakan subsidi ini justru mengundang skeptisisme dari pelaku pasar obligasi.

Berikut pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang:

  • Obligasi Tenor 10 Tahun: Mengalami kenaikan yield hingga 2,809 persen pada pertengahan Mei, level tertinggi sejak 1996.
  • Obligasi Tenor 30 Tahun: Menembus angka 4 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi jangka panjang.

Tingginya imbal hasil mencerminkan rendahnya minat beli investor terhadap surat utang jika risiko fiskal dianggap terus meningkat.

Keraguan Pasar Terhadap Kebijakan Fiskal

Direktur Ahli Monex Group, Jesper Koll, menilai pasar obligasi memiliki insting tajam terhadap rencana penambahan utang. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin meningkatkan belanja signifikan tanpa menambah beban utang baru.

Koll juga menyoroti kejanggalan dalam penjelasan PM Takaichi yang menggunakan acuan tahun kalender, bukan tahun fiskal seperti biasanya.

Hal ini dinilai sebagai "tanda bahaya" karena menyimpang dari pakem kebijakan anggaran yang berlaku.