Para pejabat Israel disebut mencak-mencak karena kampanye senilai Rp26,8 miliar per bulan untuk menjaga dukungan rakyat Amerika Serikat gagal total.

Israel merekrut mantan manajer kampanye Presiden AS Donald Trump, Brad Parscale, dengan bayaran US$1,5 juta atau setara Rp26,8 miliar per bulan.

>>> Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak di 43 Titik Seluruh Indonesia

Namun, upaya tersebut sia-sia karena dukungan warga konservatif AS terhadap Israel terus menurun.

Meskipun jutaan dolar dihabiskan untuk menyasar basis MAGA pendukung Trump, membentuk narasi media sosial, dan memengaruhi platform kecerdasan buatan, jajak pendapat menunjukkan sikap warga AS terhadap Israel terus memburuk.

Operasi pencitraan itu bertujuan mencegah kaum konservatif muda berbalik melawan Israel, menurut investigasi yang diterbitkan TIME.

Secara publik digaungkan sebagai kampanye memerangi anti-Semitisme, namun tujuan strategisnya adalah mempertahankan dukungan bagi Israel di kalangan sayap kanan AS yang semakin kritis.

Berdasarkan dokumen Foreign Agents Registration Act (FAA), agensi periklanan global Havas menyewa perusahaan Parscale, Clock Tower X, pada September 2025 untuk menjalankan kampanye digital atas nama Israel.

Perjanjian itu mewajibkan produksi 100 konten orisinal setiap bulan, dengan setidaknya 80 persen ditujukan kepada audiens Generasi Z melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan podcast.

Kampanye tersebut menjanjikan sedikitnya 50 juta tayangan digital per bulan dan mencakup upaya memengaruhi alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini.

>>> Famitsu Japan: Rhythm Heaven Groove Kembali Puncaki Penjualan dengan 126.073 Kopi

Parscale juga mengusulkan integrasi narasi kampanye ke dalam properti dan saluran distribusi jaringan media konservatif Kristen Salem Media Network, tempat ia menjabat sebagai kepala strategi.

Israel membayar perusahaan Parscale sebesar US$9 juta dan memperbarui kontraknya pada April.