Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan kekesalannya atas upaya Israel yang disebutnya menggagalkan pembicaraan damai antara AS dan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam wawancara tiga jam di podcast The Joe Rogan Experience. Ia menuding sejumlah tokoh di Israel berusaha memperpanjang konflik dengan Iran tanpa batas waktu.

>>> Mendikdasmen Buka Suara soal SD Negeri Sepi Peminat

"Ada beberapa orang di dalam sistem mereka, yang memanipulasi dan mencoba mengubah opini publik Amerika untuk menjaga agar perang terus berlanjut tanpa batas waktu.

Kami tahu tanpa ragu sedikit pun," kata Vance, seperti dikutip The New Arab.

Vance mengklaim individu-individu yang terkait dengan tokoh dalam pemerintahan Israel telah mengatur kampanye untuk mengusik dirinya dan tim negosiasi.

Tujuannya menggagalkan kesepakatan dengan Iran.

Kampanye itu melibatkan pembocoran informasi kepada jurnalis serta serangan di media sosial. Hal ini bertujuan melemahkan upayanya memenuhi tujuan yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump.

"Anda sudah menyaksikan kampanye yang sangat rahasia dan didanai dengan sangat baik untuk menggagalkan negosiasi dan mencoba menggagalkan kesepakatan," ujar Vance, seperti dikutip Al Jazeera.

>>> IHSG Dibuka Lesu ke Level 6.083, 227 Saham Merah

Ia menambahkan, "Sekelompok orang dibayar oleh mantan staf kampanye Trump yang juga dibayar oleh elemen-elemen tertentu di dalam pemerintahan Israel.

Dan orang-orang itu menyerang saya dengan kejam."

Saat membahas hal itu, Vance yang kesal mengumpat, "Pergi sana ke neraka!" Ia menegaskan akan terus melakukan apa yang menurutnya benar untuk rakyat Amerika.

Sejauh ini belum ada tanggapan dari pemerintah Israel mengenai klaim Vance. Ini merupakan kritik terpedas Vance terhadap para pejabat Israel terkait perang AS-Israel melawan Iran.

Bulan lalu, ia secara terbuka menegur anggota pemerintah Israel karena mengkritik diplomasi Washington dengan Teheran.

>>> Mitsubishi Xforce HEV Resmi Diproduksi di Indonesia

Ia dengan sarkas mengatakan bahwa jika dirinya menteri Israel, ia tak akan menyerang "satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di dunia."