Menanggapi situasi ini, Agung berpendapat bahwa rencana pembangunan tanggul laut raksasa harus didasari data geospasial yang akurat agar penentuan lokasi prioritas efektif.

Regulasi ketat mengenai penggunaan sumur bor, pemulihan hutan mangrove, dan evaluasi berkala tanggul pantai menjadi langkah krusial.

"Save water, save life, air bersih yang kita hemat hari ini adalah nafas kehidupan untuk generasi masa depan," kata Agung.

Sistem pemantauan pergerakan tanah masih menghadapi kendala teknis. Hambatan utama berupa penempatan stasiun pengamatan yang belum sepenuhnya mencakup titik dengan laju penurunan tanah tertinggi.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, BRIN bekerja sama dengan Teknik Geodesi dan Geomatika ITB menggelar pengamatan episodik tahunan menggunakan pilar benchmark permanen di area hotspot.

Kepala PRGI BRIN, Rokhis Khomarudin, mengonfirmasi bahwa penanganan penurunan tanah dan kerusakan pesisir merupakan masalah lintas sektor yang membutuhkan riset jangka panjang.

>>> Huawei Perkenalkan Teori Tau Scaling Law untuk Tingkatkan Kinerja Cip

"Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi berbasis data ilmiah," kata Rokhis.