Huawei memperkenalkan teori baru bernama Tau Scaling Law untuk meningkatkan performa cip komputer. Teori ini mengoptimalkan kerja sistem yang lebih rapat dan cepat.

Gagasan tersebut diumumkan oleh Presiden Departemen Bisnis Semikonduktor Huawei, He Tingbo, dalam makalah ilmiah di jurnal Science China Information Sciences.

>>> Ilmuwan Gunakan Jamur untuk Suburkan Tanah Mars

Teori ini berfokus pada pengurangan waktu tempuh sinyal antarperangkat, sirkuit, cip, dan sistem.

Pengembangan arsitektur baru ini menjadi strategi penting bagi industri semikonduktor China yang menghadapi tekanan dagang dari AS.

Pembatasan tersebut mencakup pemblokiran pengiriman alat litografi ultraviolet ekstrem dan peralatan pembuat cip mutakhir.

Profesor di Sekolah Sirkuit Terpadu Universitas Shanghai Jiao Tong, Zhou Jianjun, menilai pendekatan ini membuat sekelompok cip bekerja lebih efisien tanpa bergantung pada pengecilan ukuran transistor.

"Manufaktur cip tidak lagi harus terlalu bergantung pada alat litografi paling mutakhir," katanya.

>>> Review Konser F-FOREVER di Jakarta: Nostalgia Megah dengan Catatan Kritis

Teori ini diproyeksikan membantu Huawei memproduksi cip dengan kepadatan transistor setara 1,4 nanometer pada 2031.

Target ini terpaut tiga tahun dari TSMC yang mengincar proses serupa pada 2028.

Pemanfaatan inovasi arsitektur juga terlihat pada cip Kirin baru Huawei yang akan meluncur musim gugur tahun ini. Cip tersebut menggunakan teknologi arsitektur berlapis bernama LogicFolding.

Pendiri 360 Security Group, Zhou Hongyi, mengapresiasi langkah industri semikonduktor China mencari solusi alternatif. "Manakala akses ke teknologi cip mutakhir dibatasi, apakah masih ada jalur kedua?"

tanyanya.

>>> Jadwal Bioskop Trans TV Pekan Ini, 1-7 Juni 2026

Para ahli mengingatkan bahwa Tau Scaling Law masih memerlukan pengujian mendalam pada berbagai jenis cip, alat desain, ekosistem produksi, serta implementasi nyata sebelum bisa disebut pengganti Hukum Moore.