Persaingan antara Amerika Serikat dan China dalam penguasaan teknologi semikonduktor, terutama chip kecerdasan buatan (AI), memasuki babak baru yang semakin sengit.

Konflik ini tidak hanya menyangkut dominasi pasar, tetapi juga kontrol atas teknologi yang menjadi fondasi AI dan kekuatan militer masa depan.

>>> DPR: Program MBG Sejak Awal Sudah Bermasalah, Skandal Besar Mengintai

Amerika Serikat telah lama memimpin dalam desain chip, perangkat lunak EDA, dan peralatan manufaktur semikonduktor canggih.

Perusahaan seperti Intel, Nvidia, AMD, serta Applied Materials dan Lam Research memegang kunci teknologi produksi chip dengan skala nanometer yang semakin kecil.

Kekhawatiran AS terhadap ambisi teknologi China, terutama di bidang AI dan militer, mendorong penerapan pembatasan ekspor teknologi dan peralatan semikonduktor.

Langkah ini menargetkan perusahaan seperti Huawei dan SMIC untuk memperlambat kemampuan China mengembangkan chip AI canggih.

Ambisi China dan Strategi Mandiri

China tidak tinggal diam menghadapi pembatasan tersebut. Pemerintah China menginvestasikan triliunan yuan melalui berbagai dana negara dan program dukungan untuk mendorong industri semikonduktor domestik.

Inisiatif "Made in China 2025" dan fokus pada "dual circulation" menekankan pentingnya swasembada teknologi, terutama di sektor semikonduktor.

Perusahaan seperti SMIC, Huawei, dan Yangtze Memory Technologies Corp (YMTC) berupaya mengembangkan kemampuan desain dan manufaktur chip secara mandiri.

Strategi China mencakup pengembangan riset dan pengembangan di dalam negeri, pelatihan talenta lokal, dan upaya mengakuisisi teknologi atau perusahaan asing yang tidak terkena pembatasan AS.

>>> DPR Soroti Dampak Ekonomi Program MBG, Rupiah dan IHSG Tertekan

Meskipun masih tertinggal dalam teknologi proses paling mutakhir, China berhasil membuat terobosan di chip generasi sebelumnya.