Kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi risiko tinggi akibat kombinasi penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut.

Fenomena ini berpotensi memperluas wilayah genangan di sepanjang pesisir dalam jangka panjang.

>>> Sinopsis Bleeding Steel, Bioskop Trans TV 1 Juni 2026

Wilayah yang terancam meliputi Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak.

Laju kenaikan permukaan air laut di lokasi tersebut mencapai 2,4 milimeter hingga 4,3 milimeter per tahun.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, menyatakan bahwa pergerakan deformasi tanah di Pantura dapat dimonitor menggunakan teknologi geodesi dan penginderaan jauh.

Teknologi utama yang digunakan meliputi InSAR, GNSS, pengamatan terestris, dan pemodelan geospasial multidata.

Data pengamatan GNSS dari InaCORS menunjukkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura.

Data tersebut digunakan sebagai validasi terhadap hasil pengamatan satelit SAR.

Agung menjelaskan bahwa pemanfaatan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu pemicu utama amblesnya permukaan tanah di pesisir.

Kebutuhan air bersih masyarakat dan aktivitas budi daya seperti tambak udang vaname meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah.

Ancaman penurunan tanah diperparah oleh tren kenaikan air laut global.

>>> Ashin Mayday Janji Bawa Konser F*FOREVER Kembali ke Jakarta

Berdasarkan data altimetri, kenaikan air laut di utara Jawa berada pada laju 2,4 mm hingga 4,3 mm per tahun.

Melalui simulasi bath up model, sejumlah titik di Pantura diproyeksikan dapat mengalami genangan permanen jika tidak ada tindakan mitigasi berkesinambungan.

Kawasan Muara Gembong serta pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jatabek) sudah mengalami perluasan genangan akibat dampak kumulatif tersebut.