Melasma merupakan salah satu bentuk pigmentasi kulit yang paling sulit diatasi.

Noda gelap yang melebar ini umumnya menyerang wanita usia produktif akibat sensitivitas hormonal dan akumulasi paparan sinar matahari.

>>> Kamar Williams dari 80K Twins Hilang Setelah Tinggalkan Rumah

Berbeda dengan flek hitam biasa, melasma adalah kondisi kronis yang melibatkan peradangan dan kerusakan jaringan kulit dari dalam.

Oleh karena itu, diagnosis dokter spesialis sangat diperlukan sebelum menentukan langkah terapi.

Gangguan ini pertama kali sering muncul pada usia 20-an hingga 30-an, dengan puncak prevalensi pada wanita di akhir 20-an hingga awal 40-an.

Setelah menopause, intensitas melasma cenderung menurun, menunjukkan korelasi erat antara hormon feminin dan produksi melanin.

Prevalensi dan Risiko di Indonesia

Secara global, prevalensi melasma berkisar antara 1% hingga 10% dari populasi dunia. Namun, angka ini melonjak drastis di wilayah dengan paparan sinar matahari intens, seperti Asia Tenggara.

Indonesia berada dalam lingkaran risiko tertinggi karena letak geografis di garis khatulistiwa yang memastikan paparan UV intensitas tinggi sepanjang tahun.

Selain itu, mayoritas masyarakat memiliki fototipe kulit Fitzpatrick tingkat IV dan V, yang lebih reaktif terhadap pemicu hiperpigmentasi.

Faktor Pemicu Utama Melasma

Melasma bukan kondisi tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks berbagai faktor internal dan eksternal. Paparan matahari tetap menjadi pemicu utama.

Tidak hanya sinar UV, studi terbaru menunjukkan bahwa visible light, terutama blue light dari layar gawai dan lampu ruangan, mampu merangsang melanosit secara agresif.

Hal ini memicu produksi melanin berlebihan dan kekambuhan yang cepat.

Fluktuasi hormon juga memegang peranan krusial. Lonjakan estrogen dan progesteron selama kehamilan atau akibat kontrasepsi hormonal bertindak sebagai stimulator utama.