Ikan tilapia atau nila telah menjadi komoditas ekspor premium Indonesia. Regal Springs Indonesia sukses memasok filet tilapia tanpa duri ke jaringan pub Greene King di Inggris.

Produk ini menjadi bahan utama fish and chips, menu ikonik Inggris. Keberhasilan ini menunjukkan ikan lokal mampu bersaing di pasar internasional.

>>> Ekspor Toyota ke Timur Tengah Anjlok Drastis Akibat Perang Iran, Ini Dampaknya di 2026

Potensi Pasar Global dan Posisi Indonesia

Nilai impor global tilapia pada 2024 mencapai USD 1,71 miliar, naik 29,6 persen dibanding tahun sebelumnya.

Volume perdagangan mencapai 0,54 juta ton dengan tren kenaikan 9 persen per tahun sejak 2020.

Amerika Serikat menjadi konsumen terbesar dengan pangsa 46,8 persen, disusul Meksiko dan Uni Eropa. Indonesia menempati posisi eksportir terbesar ketiga setelah China dan Kolombia.

Nilai ekspor Indonesia pada 2024 mencapai USD 93,51 juta, tumbuh 14,4 persen secara tahunan.

Sebanyak 98,7 persen produk diekspor dalam bentuk filet beku, sebagian besar dari budidaya Danau Toba, Sumatra Utara.

Konsep Zero Waste dan Profil Nutrisi

Tilapia dijuluki aquatic chicken karena kandungan protein 20-29 gram per 100 gram, setara dada ayam.

Ikan ini rendah lemak jenuh, kaya Omega-3, 6, dan 9, serta vitamin B12 dan mineral.

Prinsip zero waste membuat hampir seluruh bagian ikan termanfaatkan. Berikut rincian pemanfaatan berdasarkan berat total:

>>> BTS dan K-Pop Borong 11 Piala di American Music Awards 2026

  • Filet dan Loins (30%): produk utama ekspor untuk ritel dan restoran premium.
  • Kepala Ikan (23%): bahan dasar masakan lokal.
  • Fish Frame (15%): diolah menjadi tepung atau minyak ikan.
  • Trimming Meat (13%): potongan daging untuk produk olahan.
  • Usus (7%): bahan baku pakan ikan.
  • Belly Meat (6%): diolah menjadi Belly Kabayaki untuk pasar Taiwan.
  • Kulit (4%): bahan gelatin untuk industri makanan.
  • Sisik (2%): bahan baku kolagen untuk kosmetik dan farmasi.