Target lifting minyak yang dipatok pada angka 615.000 barel per hari (bph) juga menjadi sorotan di tengah tingginya ICP.

Beberapa analis juga menilai bahwa industri hulu migas saat ini sedang mengalami masa yang kurang bergairah, yang terlihat dari target lifting 2027 yang cenderung moderat.

Hal ini menambah daftar tantangan bagi Indonesia yang harus menyeimbangkan antara produksi dalam negeri dan ketergantungan pada impor.

Selain faktor harga, regulasi baru seperti Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 juga mulai mengatur skema baru untuk minyak dan gas bumi.

Aturan ini diharapkan mampu menata distribusi serta pemenuhan kebutuhan energi domestik baik dari hasil produksi lokal maupun melalui skema impor.

Dengan berbagai dinamika yang ada, Aspermigas berharap pemerintah terus memantau pergerakan pasar global secara intensif guna menghindari defisit anggaran yang terlalu lebar.

Pemantauan ini sangat krusial karena perubahan kebijakan di tingkat global bisa terjadi hanya dalam hitungan hari saja.

Pada akhirnya, asumsi ICP sebesar US$70 hingga US$90 per barel untuk tahun 2027 hanyalah sebuah angka di atas kertas yang sangat bergantung pada realitas geopolitik.

>>> Kasus Suap Blueray, KPK Didorong Periksa Dirjen Bea Cukai

Fleksibilitas kebijakan akan menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam mengarungi ketidakpastian pasar energi di masa depan yang penuh dengan kejutan.