Indeks utama bursa saham Amerika Serikat mengalami penurunan pada Senin, 13 Juli 2026, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.

Kondisi itu mendorong harga minyak mentah melonjak dan memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi.

>>> Saham Microsoft Anjlok 20% Meski Pendapatan AI Melonjak

Indeks S&P 500 melemah 0,8 persen ke level 7.515,34, sementara Nasdaq 100 turun 1,9 persen dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,3 persen.

Penurunan pasar yang luas ini diiringi lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus ambang 80 dolar AS per barel.

Tekanan pada Sektor Teknologi dan Semikonduktor

Saham teknologi dan semikonduktor mengalami tekanan jual yang berat. VanEck Semiconductor ETF tergelincir 4 persen akibat kekhawatiran terhadap rantai pasokan memori bandwidth tinggi.

Saham berkapitalisasi besar seperti Nvidia, Broadcom, dan Tesla turut menyeret Vanguard Information Technology ETF turun 2,2 persen.

Mantan Presiden AS Donald Trump menanggapi eskalasi geopolitik dan langkah keamanan maritim melalui platform media sosial Truth Social.

>>> Saham Nebius dan IREN Anjlok Akibat Strategi Komputasi Meta

"Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN, dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal atau pelanggan Iran untuk masuk atau keluar," tulis Trump.

Pernyataan itu menyusul serangkaian serangan udara akhir pekan yang dilakukan oleh pasukan Amerika dan Iran di Timur Tengah.

Dalam unggahan berikutnya, Trump mengusulkan model keuangan baru untuk mengamankan jalur pelayaran kritis tersebut.

"AS akan, mulai saat ini, dikenal sebagai 'PENJAGA SELAT HORMUZ', tetapi sebagai imbalannya, akan diganti rugi sebesar 20 persen dari semua kargo yang dikirim untuk biaya penyediaan keamanan," tulis Trump.

>>> Scottie Scheffler Tak Peduli Warisan Golf, Fokus pada Open Championship

Penurunan pasar terbaru mencerminkan meningkatnya kecemasan setelah Teheran mengklaim telah memblokir Selat Hormuz menyusul serangan terhadap fasilitas militer di beberapa negara Teluk.