Ketidakpastian ekonomi global membuat proyeksi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) untuk tahun 2027 menjadi sulit diprediksi secara akurat.

Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) memberikan catatan kritis terkait penetapan target asumsi harga yang berada di kisaran US$70 hingga US$90 per barel.

>>> Polres Probolinggo Siagakan Personel di Yadnya Kasada 2026, Jamin Aman dan Khidmat

Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, mengungkapkan bahwa relevansi angka tersebut masih menjadi tanda tanya besar mengingat fluktuasi pasar yang ekstrem.

Menurutnya, dinamika harga minyak mentah di pasar internasional saat ini semakin sulit untuk diterka oleh para ahli maupun lembaga resmi.

Dinamika Pasar Global yang Sulit Ditebak

Moshe memberikan gambaran mengenai melesetnya berbagai prediksi dari sejumlah lembaga internasional pada periode sebelumnya sebagai bahan evaluasi.

Ia mencontohkan situasi ketika jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz mulai mengalami gangguan dan penutupan beberapa waktu lalu.

Kala itu, banyak pengamat dunia yang meramalkan bahwa harga minyak akan melonjak drastis hingga menyentuh angka US$200 per barel akibat ketegangan tersebut.

Namun pada kenyataannya, harga pasar tidak pernah mencapai titik setinggi itu meskipun sempat bertahan cukup lama di atas level US$100 per barel.

Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik dan sentimen pasar seringkali memberikan dampak yang berbeda dari apa yang telah diperhitungkan secara teoritis.

Hal ini menjadi alasan mengapa penetapan asumsi ICP untuk jangka panjang perlu dipandang dengan sikap yang lebih waspada dan fleksibel.

Faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia menurut Aspermigas:

  • Manuver politik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat di wilayah-wilayah produsen minyak mentah utama dunia.
  • Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi global.
  • Kebijakan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dalam menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan pasar.
  • Kondisi ekonomi makro negara-negara konsumen besar yang mempengaruhi tingkat penyerapan energi secara global.