Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti maraknya kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Ia mengakui tantangan ini semakin kompleks dengan beragam bentuk kekerasan dan profil pelaku.

Menurut Mu'ti, keamanan sekolah tidak hanya soal fisik, tetapi juga aspek sosial dan psikologis siswa.

>>> Makan Es Krim Bikin Sakit Kepala? Ternyata Bisa Jadi Pertanda Migrain

Hal ini disampaikan dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Jakarta Pusat pada Senin (25/5/2026).

Ia menegaskan suasana belajar optimal hanya tercapai jika murid merasa terlindungi. Banyak sekolah dinilai belum mampu menciptakan ruang sosial yang benar-benar aman.

Faktor Pemicu Perundungan

Salah satu penyebab utama adalah persaingan tidak sehat antar murid yang dipicu gaya hidup. Sekolah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, bukan ajang pamer status sosial atau kekayaan.

Pamer kekayaan sering menjadi awal ketidaknyamanan yang berujung perundungan. Fenomena ini menciptakan jurang antara siswa yang merasa dominan dengan yang dianggap lemah.

Beberapa faktor lain yang melatarbelakangi perundungan meliputi:

  • Ketidakseimbangan kekuatan, di mana pihak kuat menindas yang lemah secara fisik.
  • Siswa dengan kebutuhan khusus sering menjadi sasaran empuk.
  • Perbedaan jenis kelamin, dengan risiko lebih tinggi pada pelajar perempuan.
  • Kondisi ekonomi yang terlihat dari penampilan fisik atau atribut sekolah.
  • Rendahnya capaian akademik yang menyebabkan pengucilan.
  • Perbedaan ciri fisik mencolok meskipun bukan disabilitas.

Daftar ini menunjukkan perundungan bersifat multidimensional. Kewaspadaan dari pihak sekolah dan orang tua sangat diperlukan.

>>> Festival Solo 2026: Dampak Ekonomi Rp87,9 Miliar dari Budaya, Olahraga, dan Kuliner

Dampak Perankingan dan Sikap Guru

Mendikdasmen juga menyoroti praktik perankingan dan sikap guru yang membanding-bandingkan kemampuan akademik. Tanpa disadari, hal ini bisa menjadi pemicu perundungan di kelas.