Adegan canggung, klise, dan menggelikan atau yang sering disebut cringe telah lama menjadi bagian dari dunia perfilman.

Kehadirannya bisa muncul melalui alur cerita yang tidak logis hingga dialog sok unik yang membuat penonton merasa kurang nyaman.

>>> Fadhilah Intan Duet dengan Daniesh Suffian Rilis Single Simpul

Salah satu contohnya terlihat dalam film My Oxford Year di Netflix. Karakter mahasiswi kutu buku bernama Ana De La Vega memiliki dialog yang dianggap terlalu dibuat-buat.

"Aku punya fetish dengan perpustakaan. Aku suka dikelilingi oleh buku.

Bagiku bau buku tua adalah yang terbaik. Saat umurku sepuluh tahun aku membaca seluruh novel Phillip Pullman," demikian kutipan dialognya.

Karakter tersebut dinilai dipaksa tampil berbeda dari perempuan lain melalui cara yang pretensius.

Meskipun kerap menerima kritik, tayangan yang memicu rasa risi ini tidak pernah benar-benar lenyap dari industri sinema.

Faktor Psikologis di Balik Rasa Malu

Rasa malu yang muncul saat menyaksikan momen canggung ternyata berkaitan erat dengan faktor psikologis manusia.

Patrick Lenton dalam artikelnya di ABC menerangkan bahwa fenomena ini terjadi ketika penonton membayangkan diri mereka berada di posisi karakter film.

"Rasa malu akan sesuatu di luar diri pada dasarnya adalah bentuk dari empati.

>>> Dokter Tirta: Daging Kambing Bukan Pemicu Utama Kolesterol, Ini Penyebabnya

Rasanya seperti kita menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, lantas merasa malu untuk mereka," tulis Patrick Lenton.

Tingkat kedewasaan seseorang juga memengaruhi seberapa kuat perasaan risi tersebut muncul. Pola pikir yang lebih kompleks membuat orang dewasa lebih sulit memisahkan logika realitas dengan adegan dalam layar.

Kondisi ini membuat tindakan absurd yang dianggap normal sewaktu remaja kini justru ingin dilewati oleh penonton dewasa.

Simulasi Sosial Melalui Tayangan Film

Psikiater Steve Ellen menguraikan bahwa humor yang memicu rasa canggung ini berhubungan dengan kebiasaan manusia membandingkan diri dengan norma sosial.

"Manusia (punya kecenderungan) untuk minder dengan kelakuan sendiri, ini membuat setiap orang terus-menerus mengevaluasi diri berdasarkan standar orang lain," jelasnya.

Penonton secara tidak sadar menghubungkan diri mereka dengan momen yang sedang disaksikan. Adegan tersebut terasa familier karena sebagian besar orang pernah melewati situasi canggung dalam kehidupan nyata.

Di samping itu, momen cringe di dalam film juga berfungsi sebagai bentuk simulasi sosial bagi penonton.

>>> Bakteri Thermus javaensis Ditemukan di Sukabumi, Berpotensi untuk Industri Pangan hingga Kosmetik

Masyarakat dapat belajar memahami keadaan sosial yang aneh tanpa harus mengalaminya secara langsung di dunia nyata.