Harga minyak mentah Brent melonjak 1,5 persen menjadi 97,56 dolar AS per barel di pasar Asia pada Selasa, 26 Mei 2026.

Kenaikan ini menyusul serangan udara militer Amerika Serikat ke wilayah Iran selatan hari ini.

>>> Yoo Seung Joon Lanjutkan Perjuangan Hukum Masuk Kembali ke Korea

Kontrak berjangka minyak Brent naik 1,40 dolar AS ke posisi 97,56 dolar AS per barel pada pukul 00.06 GMT (07.06 WIB).

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS bertengger di level 91,25 dolar AS per barel.

Pasar khawatir terhadap potensi hambatan pasokan di Selat Hormuz, jalur logistik vital yang terancam oleh eskalasi konflik bersenjata.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi tindakan tersebut sebagai langkah defensif guna menetralisir ancaman militer.

Serangan menyasar situs peluncuran rudal dan armada kapal yang diindikasikan hendak memasang ranjau laut.

"Serangan ini dirancang untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh militer Iran," tulis pernyataan resmi CENTCOM.

Media lokal Iran melaporkan terjadinya ledakan hebat di kota pelabuhan Bandar Abbas dan area pesisir Selat Hormuz.

Blokade yang dilakukan Teheran selama tiga bulan terakhir telah menyumbat seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

>>> Kasus Kim Soo Hyun Makin Panas, Polisi Minta Penahanan Kepala Garosero

Akibatnya, harga energi melonjak lebih dari 50 persen akibat kelumpuhan jalur logistik global.

Di tengah situasi memanas, upaya diplomasi sebenarnya tengah diupayakan oleh delegasi tingkat tinggi kedua negara di Doha, Qatar.

Mereka menyusun nota kesepahaman gencatan senjata selama 60 hari.

Menurut laporan Nikkei, draf perjanjian tersebut mencakup komitmen Iran untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.

Hal ini agar kapal dagang termasuk sejumlah tanker LNG tujuan Asia bisa melintas dengan aman.

Namun, sentimen positif pasar kembali terganggu oleh pernyataan keras Presiden AS Donald Trump.

Trump menuntut Iran menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya untuk dihancurkan secara total.

Analis Pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai tuntutan baru dari Washington tersebut berisiko memicu kegagalan dalam proses negosiasi damai yang sedang berjalan.

>>> BTS Akan Hadir Langsung di American Music Awards 2026, Kembali ke Panggung AS

"Ini menjadi peringatan keras bagi pelaku pasar bahwa kesepakatan ini masih sangat rawan kolaps di detik-detik terakhir," pungkas Sycamore.