Keberhasilan segelintir elite ekonomi inilah yang kemudian membentuk citra kolektif bahwa semua warga keturunan China identik dengan kekayaan. Padahal, realitas sosial menunjukkan keberagaman kondisi ekonomi, mulai dari kelas atas hingga masyarakat berpenghasilan rendah.

Warisan Persepsi Kolonial

Sejarawan Ong Hok Ham menilai kesuksesan ekonomi sebagian warga keturunan China tidak dapat disederhanakan sebagai faktor ras atau semata-mata kerja keras dan hidup hemat.

"Kalau benar kerja keras dan hidup hemat menimbulkan kapitalis, maka petani yang bekerja lebih keras dan hidup lebih hemat daripada pengusaha kota tentu sudah banyak yang jadi jutawan. Faktanya tidak," tulisnya.

Dengan demikian, stigma bahwa seluruh warga keturunan China pasti kaya lebih merupakan warisan kebijakan kolonial yang membentuk struktur sosial-ekonomi tertentu, bukan cerminan realitas menyeluruh masyarakat Indonesia saat ini.