Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, menilai tudingan mengenai ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tidak masuk akal jika melihat proses politik yang telah dilalui Jokowi sejak awal kariernya.

Menurut Dedy, Jokowi telah berkali-kali mengikuti kontestasi politik melalui jalur resmi dan diusung partai besar sekelas PDIP tanpa pernah dipersoalkan dokumen pendidikannya ketika proses pencalonan berlangsung.

>>> CBUAE Governor and Indonesian Ambassador Discuss Cross-Border Payment Cooperation

"Padahal semua orang tahu yang mengusulkan orang tersebut adalah partai besar dan terkemuka di Indonesia. Mana mungkin sebuah partai besar bisa meloloskan orang yang nggak punya ijazah," katanya.

"Aneh saja itu partai kalau meloloskan orang yang nggak punya ijazah bisa tampil jadi wali kota, gubernur, bahkan presiden dua periode," lanjut dia.

Ia juga mengingatkan bahwa saat Jokowi mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah maupun calon presiden, tidak ada pihak yang mengajukan keberatan kepada penyelenggara pemilu.

"Dulu nggak ada yang bikin laporan ke KPU atau Bawaslu. Sekarang ramai-ramai menuding ijazah beliau palsu," kata Dedy.

Menurutnya, polemik yang kembali diangkat belakangan ini lebih dipicu rasa tidak suka terhadap sosok Jokowi dibanding persoalan substansi.

Dedy bahkan menyebut kejengkelan sebagian pihak kepada Jokowi telah melampaui batas. "Kejengkelan pada sosok beliau ini sudah sampai bikin banyak orang sakit jiwa.

>>> Misteri Kematian Sutrimo di Jaksel: Kronologi, Pesan Berantai, dan Kaitannya dengan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Padahal beliau ini sudah menjalankan tugas-tugas konstitusionalnya dengan rating paling tinggi yang pernah dilihat oleh bangsa ini," ujarnya.

Ia pun meminta publik lebih objektif dalam menilai Jokowi berdasarkan rekam jejak kepemimpinannya. "Mungkin Anda nggak suka sama sosok ini secara personal.