Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyerukan agar Nahdlatul Ulama (NU) dijauhkan dari tarik-menarik politik praktis menjelang pelaksanaan Muktamar NU.

Menurut Hasto, NU memiliki peran besar dalam membentuk karakter bangsa Indonesia.

>>> Hari Kebaya Nasional, Wilsen Willim Rilis Koleksi Bareng Dian Sastrowardoyo

Bersama PNI, Muhammadiyah, dan komponen bangsa lainnya, NU turut membangun fondasi Indonesia melalui sejarah perjuangan kemerdekaan, visi kebangsaan, dan tradisi Islam rahmatan lil’alamin.

"NU terlalu besar untuk dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Jangan pernah coba-coba memecah belah NU demi ambisi kekuasaan.

NU itu milik Indonesia dan dunia yang ditakdirkan dengan jiwa keislaman serta konsepsi pemikiran yang luar biasa," tegas Hasto.

Hasto mengaku kagum terhadap pemikiran visioner para pendiri NU yang tergambarkan dalam logo organisasi tersebut. Ia menilai logo NU sangat membumi, visioner, dan futuristik.

>>> Finalis Puteri Indonesia Meriahkan Hari Kebaya Nasional dengan Trunk Show

"Apalagi dengan kontribusi patriotismenya melalui Resolusi Jihad di dalam perjuangan mengusir bala tentara Sekutu yang ditunggangi NICA untuk menjajah kembali Indonesia," ujarnya.

Ia menilai sinergi antara kebangsaan dan agama perlu diawali dengan penggalian sejarah yang benar mengenai peran NU dan PNI dalam perjalanan Indonesia serta dunia.

Menurut Hasto, pemahaman sejarah tersebut dapat menjadi dasar untuk merancang gerakan Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan nasional, mulai dari kondisi fiskal, moneter, pertumbuhan sektor riil, hingga persoalan dalam sistem hukum nasional.

>>> Geely Coolray Tak Kejar Harga Murah, Fokus pada Teknologi dan Performa

"Penggalian terhadap sejarah yang benar ini kemudian dirancang menjadi pergerakan Indonesia yang saat ini sedang dilanda kegelapan fiskal, moneter, dan pertumbuhan sektor riil, serta akibat kegelapan dalam sistem hukum nasional," kata Hasto.