Kepercayaan terhadap berita terus menurun secara global, namun saat pemilu tiba, pemilih di Indonesia dan Singapura kembali beralih ke media arus utama.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa di tengah ekosistem informasi yang terfragmentasi, media tradisional masih menjadi sumber kredibilitas.

>>> 5 Inovasi AI dan Digital APEC untuk Akselerasi Ekonomi 2026

Laporan Reuters Institute Digital News Report mencatat bahwa platform media sosial dan video telah melampaui situs berita dan aplikasi.

Kepercayaan global terhadap berita turun ke 37 persen, level terendah sejak 2015.

Survei Eurobarometer di 27 negara Uni Eropa juga menemukan bahwa dua dari tiga pengguna mencari informasi politik di media sosial.

Lebih dari sepertiga mengikuti influencer.

Media Arus Utama Tetap Jadi Andalan

Di Indonesia, survei panel dua gelombang yang representatif secara nasional menemukan bahwa televisi tetap menjadi sumber berita pemilu yang paling banyak diakses.

WhatsApp dan percakapan tatap muka menyusul di posisi berikutnya.

YouTube, TikTok, Facebook, dan Instagram tumbuh pesat, tetapi tidak menggantikan peran sentral televisi. Media cetak hampir punah, dengan hampir sembilan dari sepuluh responden mengaku tidak pernah mengaksesnya.

Pola kepercayaan mencerminkan penggunaan. Masyarakat Indonesia menempatkan kepercayaan tertinggi pada televisi dan percakapan antarpribadi, bukan media sosial.

Singapura menunjukkan pola serupa meskipun lingkungan digitalnya lebih jenuh.

Selama pemilu 2025, versi digital dari outlet arus utama seperti CNA, The Straits Times, dan Lianhe Zaobao menjadi sumber yang paling banyak digunakan dan dipercaya.

Televisi tetap menjadi media kedua yang paling dipercaya di semua demografi. Media cetak terus menurun, tetapi institusi di belakangnya tetap berpengaruh melalui migrasi digital.

Konten Pendek Mengubah Perhatian Politik