Selama bertahun-tahun, nasihat umum bagi mahasiswa ambisius dan pencari kerja adalah "belajar koding."

Namun, di era ketika perusahaan bersemangat menggunakan AI untuk menggantikan tugas insinyur perangkat lunak, nasihat itu mulai terlihat usang.

>>> The Rings of Power Season 3 Akan Ungkap Alasan Hilangnya Celeborn Lewat Kilas Balik Galadriel

Untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun, pendaftaran program ilmu komputer menurun pada tahun ajaran 2025-2026, menurut penelitian baru dari ekonom Stanford Jacob Light yang dilaporkan oleh Business Insider.

Survei terpisah dari National Student Clearinghouse Research Center menemukan bahwa pendaftaran sarjana di bidang komputer dan ilmu informasi serta layanan dukungan turun 8,1 persen pada musim gugur 2025.

Light mengatakan penurunan itu mungkin terkait dengan AI, tetapi belum tentu akibat langsung dari AI yang mengambil alih pekerjaan koding.

"Penurunan bisa mencerminkan perubahan dalam fungsi produksi pendidikan karena AI generatif mengubah cara siswa menyelesaikan tugas," tulis Light.

Ia juga menyebut kemungkinan perubahan ekspektasi siswa terhadap imbalan keterampilan ilmu komputer, respons terhadap kondisi pasar tenaga kerja yang sebagian mencerminkan adopsi AI, serta kelemahan pasar tenaga kerja teknologi yang lebih luas.

>>> Profil M Basri Legenda Pemain dan Pelatih Timnas Indonesia yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan Akun IG

Analisis The Washington Post terhadap data National Student Clearinghouse menunjukkan bahwa sebagian pendaftaran ilmu komputer yang hilang beralih ke disiplin terkait seperti analitik data dan ilmu data.

Yang jelas, pekerjaan pemrograman, terutama di perusahaan teknologi besar, tidak lagi seaman dulu. Lebih dari 120.000 pekerjaan teknologi telah dipangkas pada 2026, menurut pelacak PHK Layoffs.

fyi.

Sebagian besar PHK terjadi di perusahaan seperti Meta dan Google saat mereka meningkatkan belanja AI.

Satu laporan menemukan bahwa AI disebut dalam pengumuman lebih dari 54.000 PHK tahun lalu.

>>> Situs Parodi Baru Ancam Ganti CEO dengan AI dengan Gaji Jauh Lebih Rendah

Namun, apakah AI benar-benar menggantikan pekerjaan tersebut atau hanya dijadikan kambing hitam oleh pengusaha masih menjadi perdebatan.