Media arus utama kini bersaing dalam ekonomi perhatian yang berubah. Video pendek, komentar kreator, dan podcast menjadi pusat komunikasi politik, terutama di kalangan pemilih muda.

Di Indonesia, pemilih berusia 15-24 tahun mengonsumsi konten pemilu terutama melalui TikTok, WhatsApp, TV, Instagram, dan YouTube. Podcast dan influencer menjadi sumber komentar politik utama.

Pemilih Singapura menunjukkan perilaku serupa: TikTok dan YouTube menjadi platform utama bagi pemilih muda, dan hampir sepertiga pemilih mengonsumsi podcast setiap hari selama masa pemilu.

Perubahan ini membawa konsekuensi. Sebuah proposal kebijakan menjadi slogan; debat menjadi beberapa detik viral; seorang kandidat diingat karena meme, bukan platformnya.

Survei pemilu Indonesia menangkap dinamika ini: sekitar setengahnya menonton debat presiden secara penuh, tetapi 60 persen hanya menonton klip pasca-debat yang secara signifikan membentuk persepsi tentang kandidat.

>>> Netanyahu Girang Trump Minta Normalisasi Saudi-Israel soal Deal Nuklir

Konten pendek tidak selalu berbahaya, tetapi penekanannya pada emosi dan kecepatan sering mengorbankan nuansa. Saat politik menjadi 'snackable', masyarakat harus bertanya bagaimana menjaga diskusi sipil yang bermakna.

Upaya literasi digital harus meluas melampaui sekadar mendeteksi berita palsu.

Literasi civic dan politik—memahami bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan sehari-hari, bagaimana pemerintahan bekerja, dan bagaimana pembingkaian membentuk makna—semakin penting.

AI Menambah Kompleksitas dan Kesenjangan Regulasi

Konten buatan AI menambah lapisan baru dalam komunikasi pemilu.

Di Indonesia, AI digunakan untuk membuat satire, konten berbasis keterlibatan, dan kartun 'Gemoy' yang viral terkait kampanye Prabowo-Gibran.

Materi-materi ini bukan disinformasi langsung, tetapi propaganda halus yang lebih sulit diatur. Paparan terhadap deepfake terbatas, tetapi kepercayaan terhadapnya mengikuti garis partisan.

Pemilih muda dan berpendidikan melaporkan paparan tertinggi terhadap misinformasi—dan kesadaran tertinggi akan hal itu. Pemilih Singapura menunjukkan kehati-hatian terhadap konten yang dimanipulasi secara digital.