Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut gembira syarat baru yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pakta program pengayaan uranium untuk energi nuklir antara AS dan Arab Saudi.

Trump menegaskan bahwa program tersebut baru bisa berjalan jika Saudi bergabung dalam Perjanjian Abraham Accord. Artinya, Saudi harus melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

>>> 90 Mahasiswa Indonesia Raih Beasiswa Erasmus Mundus ke Eropa

Netanyahu menyebut keikutsertaan Saudi dalam perjanjian itu sebagai "lompatan bersejarah bagi perdamaian di Timur Tengah."

Melalui pernyataan di Truth Social, Trump mengatakan kesepakatan nuklir ini hanya berkaitan dengan penggunaan non-militer, seperti yang sudah dimiliki Iran, Uni Emirat Arab, dan negara lain.

Ia menegaskan tidak akan ada pengayaan uranium dalam kerangka ini.

Namun, prospek tersebut "sepenuhnya bergantung pada keikutsertaan Arab Saudi dalam Abraham Accords," kata Trump.

>>> Cara Mudah Dapatkan Saldo Dana Rp793.000 Lewat Aplikasi Penghasil Uang 2026

Saudi sejauh ini belum menanggapi komentar Trump secara terbuka. Netanyahu pun yakin Saudi tak punya pilihan selain bergabung demi program nuklir tersebut.

Sejak awal, Saudi menegaskan tidak akan mengakui dan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sampai Palestina merdeka.

Abraham Accords adalah perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dengan negara Arab-Muslim yang diinisiasi Trump di masa jabatan pertamanya.

Bahrain, UEA, Maroko, dan Sudan telah menandatanganinya.

>>> Anak Jennifer Pedranti Diduga Sebabkan Kebakaran, Kerugian Capai Rp160 Juta

Sebelumnya, Israel dan Saudi hampir menormalisasi hubungan, tetapi batal setelah Israel meluncurkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.