Setidaknya ada tiga PR utama yang perlu segera diselesaikan Sudaryono.

Pertama, menormalkan tata kelola keuangan dan memastikan tidak ada lagi mismatch antara komitmen program dengan kapasitas fiskal dan administrasi.

Kedua, membangun ulang rantai pasok MBG agar benar-benar berbasis produksi domestik, yakni petani, peternak, dan nelayan.

Ketiga, memperbaiki sistem targeting dan monitoring untuk mengurangi kebocoran, salah sasaran, dan lemahnya evaluasi berbasis data real-time.

Tanpa ketiga hal ini, MBG akan menjadi program mahal dengan dampak ekonomi yang dangkal.

>>> NASA Kembangkan Toilet Rp411 Miliar yang Ubah Air Kencing Jadi Air Minum

Ronny menambahkan, keberhasilan Sudaryono akan ditentukan oleh kemampuannya membangun tim yang kuat, profesional, serta mampu mengelola program berbasis data dan evaluasi yang terukur.