Rumor perpecahan antara kubu garis keras serta ulama dan pejabat politik di Iran semakin menguat.

Hal ini terjadi di tengah gempuran baru Amerika Serikat yang membuat kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) terlihat sia-sia.

>>> 3 Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Yahukimo Papua

Perpecahan di tubuh pemerintahan Iran makin terlihat saat proses pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei awal Juli lalu.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjalan di samping peti jenazah, namun sebagian pelayat tidak meneriakkan penghormatan.

Sebaliknya, mereka meneriakkan slogan kepada Pezeshkian: "Mati bagi para kompromis!" Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bahkan dilempari batu oleh massa yang menuduhnya sebagai "pengkhianat yang menjual negara."

Padahal, Araghchi berhasil membawa Iran keluar dari sebagian sanksi internasional setelah berunding dengan AS melalui mediator.

Permusuhan terhadap pejabat tinggi selama pemakaman mencerminkan menguatnya pandangan faksi garis keras di Republik Islam Iran.

Tuduhan Kudeta Lunak

Kelompok garis keras meyakini para pemimpin yang menandatangani kesepakatan dengan AS tengah melakukan "kudeta lunak" terhadap negara dan nilai-nilai revolusinya.

Kecurigaan ini berkembang karena Pemimpin Tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, hampir tidak pernah muncul di hadapan publik.

Sebagian pihak meyakini ia bersembunyi demi keamanan, sementara yang lain berspekulasi kondisinya tidak memungkinkan untuk tampil.

>>> Bupati Siak Curhat ke Gibran Soal Warisan Utang Rp400 Miliar

Kelompok garis keras menilai para pejabat justru menyerah kepada AS dengan menandatangani kesepakatan yang bertentangan dengan perintah Mojtaba.

Namun, Mojtaba tetap berada di balik layar dan belum menyampaikan pidato langsung kepada rakyat. Berbagai pejabat tetap menjalankan pemerintahan dan bernegosiasi atas namanya.