Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengguncang ekonomi global karena Selat Hormuz menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Sekitar 20-25 persen minyak dunia melewati selat ini setiap hari, dan penutupan oleh Iran menyebabkan gangguan pasokan bahan bakar di banyak negara.

>>> AS Kerahkan Jet Tempur Siluman F-35 ke Timur Tengah, Ancam Iran

Namun, Selat Hormuz bukan satu-satunya jalur perdagangan yang riskan.

Para peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memetakan Laut China Selatan sebagai jalur yang tidak kalah penting, bahkan dampak gangguannya bisa terasa dalam jangka panjang.

Dua Selat Penting di Laut China Selatan

Laut China Selatan memiliki dua selat utama, yaitu Selat Malaka dan Selat Taiwan.

Pada 2024, masing-masing selat mengangkut barang senilai lebih dari US$2,4 triliun, atau 21 persen dari perdagangan maritim global.

Jika terjadi konflik di Laut China Selatan, gangguan besar terhadap arus perdagangan melalui jalur tersebut bisa terjadi.

Upaya Iran mengendalikan Selat Hormuz memperbarui kekhawatiran bahwa negara lain bisa melakukan hal serupa terhadap Selat Malaka.

Ancaman China menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan juga menempatkan Selat Taiwan sebagai titik panas geopolitik.

Jika salah satu dari dua selat ini terganggu, opsi pengalihan rute ada tetapi membutuhkan biaya sangat besar.

Dampak bagi Ekonomi Global

China menghadapi 'dilema Selat Taiwan' yang lebih besar daripada 'dilema Malaka'.

Pada 2024, sekitar 33 persen impor China dan 16 persen ekspornya melewati Selat Taiwan, sementara 21 persen impor dan 14 persen ekspornya melewati Selat Malaka.

>>> Rekor 22 Gol Mbappe di Piala Dunia 2026 Gagal Bawa Prancis ke Final