Amerika Serikat hanya bergantung 3-4 persen dari total perdagangannya pada kedua selat tersebut.

Namun, bagi sekutu AS seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, risikonya jauh lebih besar, terutama di Selat Taiwan.

Pada 2024, mereka secara kolektif mengirimkan barang senilai US$755 miliar melalui Selat Taiwan dan sekitar US$474 miliar melalui Selat Malaka.

Banyak negara di Afrika dan Timur Tengah juga sangat bergantung pada jalur ini.

Enam negara Teluk Persia—Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA—bergantung pada Selat Malaka untuk lebih dari 40 persen ekspor mereka pada 2024.

Di Afrika, Eritrea mengirim 90 persen ekspornya ke Asia melalui Selat Malaka.

Beberapa skenario dapat mengganggu titik-titik strategis di Laut China Selatan, mulai dari konflik militer besar hingga pembajakan, terorisme, kecelakaan, dan bencana lingkungan.

Konflik China-Taiwan menjadi salah satu yang paling terlihat.

China terus menegaskan akan menguasai Taiwan dan meningkatkan tekanan militer.

Invasi skala penuh atau blokade terhadap Taiwan akan mengubah Selat Taiwan menjadi zona perang dan dapat menjerat Selat Luzon.

>>> 3 Rekor yang Bisa Diraih Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Jika konflik besar terjadi, Amerika Serikat kemungkinan terlibat, yang dapat mempersulit perdagangan melalui Selat Malaka. Beijing telah lama khawatir akan blokade jarak jauh oleh AS di selat tersebut.