Oman dan Iran berencana menerapkan tarif layanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Rencana ini terinspirasi dari sistem pengelolaan yang telah lama diterapkan di Selat Malaka dan Selat Singapura.

>>> Cara Cek Pencairan PKH dan BPNT 2026 Meski Status SPM Masih Proses

Seorang diplomat kawasan mengungkapkan informasi tersebut kepada New York Times, Rabu (1/7). Menurutnya, rancangan sebagian mengadopsi mekanisme yang berlaku di jalur pelayaran Selat Malaka dan Singapura.

Dalam sistem tersebut, sebuah yayasan swasta mengumpulkan kontribusi sukarela dari perusahaan pelayaran untuk mendukung keselamatan navigasi.

Konsep serupa kini ingin diterapkan di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

Proposal Oman akan membuat kapal yang melintas membayar biaya layanan sebagai dukungan terhadap pengelolaan dan keamanan jalur pelayaran.

Namun, masih terdapat perbedaan pandangan antara Oman dan Iran.

Seorang diplomat menyebut biaya layanan dirancang bersifat sukarela, sebagaimana sistem di Selat Malaka dan Singapura. Iran menegaskan menginginkan pembayaran bersifat wajib bagi seluruh kapal yang menggunakan Selat Hormuz.

Rencana ini muncul setelah perang mengubah situasi keamanan, menyusul konflik Iran-Amerika yang tak kunjung berakhir. Iran sempat memblokade Selat Hormuz, mengganggu perdagangan global dan melonjakkan harga minyak dunia.

Pascaperang, Iran mendorong agar jalur pelayaran penting itu memberikan manfaat ekonomi melalui penerapan biaya layanan bagi kapal internasional.

>>> AOC Ajak Warga Tetap Patriotik: Amerika Lebih Besar dari Penguasanya

Oman kemudian berperan sebagai mediator dan mitra dalam menyusun proposal baru.

Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran menetapkan bahwa selama 60 hari kapal dagang tetap dapat melintas tanpa dikenakan biaya.

Setelah masa tersebut berakhir, Iran dan Oman akan menentukan sistem baru melalui negosiasi.

Amerika Serikat menyatakan keberatan terhadap gagasan tersebut. Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut rencana pengenaan tarif di Selat Hormuz tidak dapat diterima.

Namun, Oman tetap melanjutkan pembahasan dengan berbagai pihak.

Selat Malaka dan Singapura dijadikan referensi dengan harapan menawarkan mekanisme yang menjaga keselamatan pelayaran sekaligus mendukung pengelolaan jalur laut strategis.

Selat Hormuz, jika akhirnya disepakati, akan memiliki sistem pengelolaan baru yang terinspirasi dari salah satu jalur pelayaran tersibuk di Asia.

>>> Tebak Selebriti Berkaki Hot Dog: Siapa Pemilik Kaki Indah Ini?

Bentuk akhir dan mekanisme pembayarannya masih menjadi bahan negosiasi antara Oman, Iran, dan Amerika Serikat.