Jagat media sosial kembali dibuat gaduh oleh pernyataan kontroversial yang berasal dari lingkaran istana. Ulta Levenia Nababan, yang menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), mendadak menjadi sorotan tajam publik usai melontarkan sindiran pedas kepada seorang mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Puncaknya, ia menyamakan jas almamater kebanggaan mahasiswa UI dengan "daster", sebuah ucapan yang langsung memicu gelombang kritik luas mengenai etika komunikasi pejabat publik.
 
Kontroversi ini bermula dari sebuah diskusi di program televisi yang mengangkat tema krusial nasional, yakni pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam tayangan tersebut, seorang mahasiswi UI menyampaikan pandangannya terkait adanya kendala yang dialami oleh sejumlah sekolah dalam implementasi program strategis pemerintah ini.
 
Alih-alih merespons dengan diskusi yang sehat dan berbasis data, Ulta memilih untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya melalui unggahan di akun Instagram Story pribadinya. Ia mempertanyakan validitas klaim mahasiswi tersebut yang menyebut "banyak sekali sekolah" mengalami kendala. Bagi Ulta, narasi yang disampaikan dinilai terlalu umum dan tidak didukung oleh paparan data yang konkret.
 
"Lahhh 'banyak sekali sekolah-sekolah', ukuran banyak sekali-nya ini dari mana sih? Terus pas ditanya angka enggak mau jawab, malah playing victim," tulis Ulta dalam unggahannya, menuding sang mahasiswi menghindari pertanyaan substantif dengan memainkan peran sebagai korban.
 
Namun, kritik terhadap metodologi atau data sebenarnya masih bisa dimaklumi sebagai bagian dari dinamika diskusi publik. Yang memicu kemarahan warganet adalah ketika Ulta melontarkan sindiran personal yang menyentuh ranah identitas akademik. Dengan nada yang terdengar meremehkan, ia menyamakan jas almamater berwarna kuning yang dikenakan mahasiswi tersebut dengan pakaian rumahan.
 
"Kochaque bunda pakai daster kuning ini. Maaf Bund beli dasternya di mana?" cuit Ulta disertai emoji tertawa.