Empat raksasa industri Prancis bertaruh bahwa masa depan penerbangan bisa dimulai dari ladang dan hutan, bukan sumur minyak.

Technip Energies, Airbus, Safran, dan Tereos sepakat membentuk Rebound, sebuah joint venture untuk mengembangkan pabrik bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) di Pelabuhan Dunkirk, Prancis utara.

>>> Jodie Sweetin Ungkap Perjalanan Sobriety Bersama John Stamos

Pabrik ini ditargetkan memproduksi sekitar 176.000 ton SAF per tahun menggunakan teknologi Alcohol-to-Jet (AtJ), menjadikannya salah satu fasilitas terbesar di Eropa.

Bahan Bakar dari Limbah

Teknologi AtJ mengubah etanol tingkat lanjut menjadi bahan bakar penerbangan.

Etanol tersebut diperoleh dari residu pertanian dan kehutanan, sehingga proyek ini berbasis limbah dan produk sampingan, bukan tanaman pangan konvensional.

Bahan bakar ini dirancang sebagai opsi "drop-in" yang dapat dicampur dengan bahan bakar jet konvensional dan digunakan langsung di mesin pesawat serta infrastruktur bandara yang ada.

Hal ini penting karena pesawat terbang beroperasi selama puluhan tahun, sehingga maskapai membutuhkan solusi yang sesuai dengan armada saat ini.

Mengapa Dunkirk?

Pelabuhan Dunkirk telah memberikan lokasi industri untuk proyek ini. Lokasi tersebut menawarkan keuntungan logistik untuk mengangkut bahan baku dan mendistribusikan bahan bakar, serta membantu proses perizinan.

Pabrik SAF membutuhkan truk, kapal, tangki penyimpanan, kontrak jangka panjang, dan pasokan bahan baku yang stabil.

Dunkirk juga mendukung strategi Prancis menghubungkan pertanian, energi, dan kedirgantaraan dalam satu rantai.

Setiap mitra membawa peran berbeda.

>>> Badai Bersihkan Asap Kebakaran Hutan Sebelum Final Piala Dunia

Technip Energies sebagai pengembang utama dan penyedia jasa teknik, Airbus dan Safran sebagai mitra industri dan calon pembeli, serta Tereos sebagai pemasok etanol tingkat lanjut.