PT Pertamina (Persero) dan Boeing [NYSE: BA] sepakat menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia.

Kerja sama ini bertujuan mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

>>> Dokter Ingatkan Efek Kebakaran TPA Jatiwaringin Bisa Sefatal Ini

Melalui kolaborasi ini, kedua perusahaan akan mengeksplorasi berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF, termasuk identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, dan dukungan kebijakan.

Investasi Jangka Panjang untuk Industri SAF Nasional

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional.

"Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing," ujar Simon.

Ia menambahkan, kerja sama ini juga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.

Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga tahun 2044.

Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF menjadi solusi penting untuk menekan emisi karbon sektor aviasi.

>>> Trump Frustrasi Serang Iran: Orang-orang Ini Bohong dan Curang

Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara.

"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan," ujar Indra.