Serangan rudal balistik dan drone Iran menewaskan dua prajurit Amerika Serikat dan menyebabkan satu lainnya hilang di pangkalan militer di Yordania pada Jumat, 17 Juli 2026.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi insiden tersebut sebagai kematian pertama personel AS sejak permusuhan kembali pecah pada Juni setelah gencatan senjata sementara antara Washington dan Tehran gagal.

>>> Espanyol Coret Tiga Pemain dari Laga Pramusim Perdana Lawan Olot

Empat prajurit AS lainnya mengalami luka serius dan dievakuasi ke rumah sakit di Yordania sebelum akhirnya dipulangkan. Personel lain yang mengalami luka ringan telah kembali bertugas.

Identitas dua prajurit yang gugur ditahan selama 24 jam hingga pemberitahuan kepada keluarga selesai. CENTCOM menyatakan akan merahasiakan informasi tersebut demi menghormati keluarga.

Militer Yordania melaporkan berhasil mencegat 10 rudal Iran di wilayah udaranya tanpa mengalami kerusakan.

Eskalasi Konflik

Serangan ini terjadi setelah sepekan serangan balasan AS setiap malam terhadap sasaran Iran, serta klaim operasi Iran terhadap sekutu AS di Kuwait dan Qatar.

>>> Pitcher Rookie Karlyn Pickens Hancurkan Dua Bat Aluminium di AUSL

Konflik meluas setelah militer AS melancarkan serangan malam ketujuh berturut-turut menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa gencatan senjata sementara telah berakhir.

AS juga memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran, yang mendorong Tehran menutup Selat Hormuz.

Media Iran, mengutip kementerian kesehatan, melaporkan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 terluka dalam serangan AS selama tiga pekan terakhir.

>>> Pejabat Indonesia: Kerja Sama Investasi China-Indonesia Berpotensi Besar

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, merilis pernyataan tertulis yang menyebut tanda tangan presiden AS sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas.