Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur dan fasilitas militer pada Sabtu (18/7).

Pertempuran di kawasan Selat Hormuz semakin intensif.

>>> Diskon Jutaan, Bersiap Beli Alat Elektronik di Transmart Full Day Sale

Komando Pusat AS menyatakan serangan malam ketujuh berturut-turut menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.

Kuwait melaporkan berhasil mencegat rudal dan drone Iran. Sebuah pabrik desalinasi air di Kuwait terkena serangan dan menyebabkan kebakaran.

Ini adalah kali kedua dalam dua hari Iran menargetkan infrastruktur desalinasi di negara tersebut.

Irak menembak jatuh drone di atas kota Irbil. Yordania melalui kantor berita Petra mengatakan sistem pertahanan udaranya menembak jatuh rudal Iran.

Sirene udara juga berbunyi beberapa kali di Bahrain.

Pejabat Iran menyatakan serangan AS baru-baru ini menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Militer AS mengakui sejumlah anggotanya terluka.

Dampak pada Selat Hormuz

Iran secara efektif menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran sejak perang dimulai pada 28 Februari. Hal ini menyebabkan harga minyak melonjak dan memberi Iran pengaruh dalam negosiasi.

Harga minyak naik di atas US$86 per barel pada Jumat, mendekati level tertinggi dalam sebulan.

Jumlah kapal yang melintasi selat tersebut turun ke level terendah dalam tiga minggu.

Dalam pidato kepada publik AS pada Kamis malam, Presiden Trump menegaskan perang berjalan dengan baik.

"Kita juga menang besar di Iran, dan Anda akan melihat hasilnya dalam waktu sangat singkat," ujarnya.

>>> 5 Tren Infrastruktur dan Tata Kelola AI 2026 yang Perlu Dipahami

Sebelum perang, AS melakukan pembicaraan dengan Iran mengenai program nuklir. Trump kini menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri konflik dan menghindari perang berkepanjangan di Timur Tengah.