Kelompok garis keras Iran melontarkan tuduhan serius kepada pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian. Mereka dituduh merencanakan 'kudeta perlahan' di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Tuduhan itu mencuat saat upacara penghormatan jenazah mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada awal Juli 2026.

>>> Timnas Voli Putra Indonesia ke Final SEA V Cup 2026 Usai Gilas Vietnam

Massa garis keras bahkan melempari Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dengan batu.

Araghchi disebut sebagai 'pengkhianat yang menjual diri' oleh para pelayat. Ia terpaksa melarikan diri dari lokasi pemakaman setelah menjadi sasaran amukan.

Presiden Pezeshkian juga tak luput dari kemarahan. Saat berjalan di samping peti jenazah Khamenei, sejumlah pelayat meneriakkan 'matilah si pengkhianat' kepadanya.

Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei Memicu Spekulasi

Pemimpin Tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, masih belum muncul di depan publik. Alasan keamanan disebut sebagai penyebab, namun ada yang meragukan kemampuannya menjalankan tugas.

>>> Stres Ditinggal Istri, Pria di Medan Bakar Ayah Kandung

Kelompok garis keras menuduh pemerintahan saat ini sengaja membatasi akses ke Mojtaba. Mereka juga dituduh menangguhkan parlemen dan membubarkan demonstrasi jalanan yang menjadi basis kekuatan fundamentalis.

Anggota parlemen radikal Mahmoud Nabavian sempat bertanya, 'Apakah kudeta akan segera terjadi?' Ia kemudian menyerukan perlawanan terhadap kudeta dalam pernyataan di media sosial.

Pengamat Iran Arash Azizi mengatakan kelompok garis keras menuduh Ghalibaf, Pezeshkian, dan Araghchi merencanakan kudeta dengan memutus akses ke Pemimpin Tertinggi.

>>> Timnas Voli Indonesia Tantang Kamboja di Final SEA V Cup 2026

'Ketidakhadiran Mojtaba berarti mereka tidak memiliki akses kepadanya dan Ghalibaf serta sekutunya memegang kendali negara,' ujar Azizi.