Akar Kekerasan Militan di Pakistan: Bukan Sekadar Masalah Perbatasan
Pakistan masih bergulat dengan meningkatnya aksi kekerasan militan meskipun telah melakukan berbagai langkah seperti serangan udara lintas batas, pemasangan pagar perbatasan, deportasi warga Afghanistan, dan penutupan jalur perdagangan.
Menurut Dawood Safi, peneliti dan pendiri Afghanistan Bridging Initiative (ABI), langkah-langkah tersebut belum mampu menghentikan kekerasan karena Islamabad terlalu fokus pada faktor eksternal.
>>> Mendes Yandri Bongkar Hambatan Utama Kopdes Merah Putih
Safi menilai Pakistan terlalu sering menunjuk Afghanistan dan keberadaan tempat perlindungan kelompok bersenjata di seberang Garis Durand sebagai penyebab utama.
Padahal, faktor lintas batas memang nyata dan Kabul bertanggung jawab memastikan wilayahnya tidak digunakan untuk menyerang negara tetangga.
"Pakistan dapat menunjukkan jangkauan militernya melintasi Garis Durand, menekan Kabul, membatasi perdagangan, dan mendeportasi warga Afghanistan.
Tetapi tidak satu pun dari langkah tersebut menjelaskan mengapa kekerasan militan di dalam Pakistan terus muncul kembali," ujar Safi.
Gelombang Kekerasan yang Tak Kunjung Reda
Pakistan Institute for Conflict and Security Studies (PICSS) mencatat 1.066 serangan militan sepanjang 2025, meningkat 17 persen dibanding tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak 2014.
Operasi pasukan keamanan juga meningkat tajam, naik 63 persen menjadi 482 operasi, dengan lebih dari 2.100 militan tewas.
Namun peningkatan operasi tidak diikuti penurunan serangan.
Sebagian besar kekerasan terkonsentrasi di Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan, dua wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi pusat konflik bersenjata.
"Pakistan menerapkan lebih banyak kekuatan, tetapi tidak menghasilkan lebih banyak keamanan," sebut Safi.
Menurutnya, operasi militer memang dapat menghancurkan jaringan militan atau menggagalkan serangan tertentu, tetapi tidak dapat menggantikan legitimasi politik.
"Serangan udara dapat menghancurkan sebuah kompleks, tetapi tidak dapat meyakinkan masyarakat yang merasa terasing bahwa negara mewakili mereka," katanya.
Update Terbaru
Kei Sanbe Luncurkan Manga Aria's Adventures in Miracleland
Jumat / 17-07-2026, 14:02 WIB
Kebakaran Hutan Global Makin Parah, Ilmu Pengetahuan Diuji
Jumat / 17-07-2026, 14:02 WIB
Pesepakbola Ubah Persepsi Gaya Rambut Profesional di Panggung Dunia
Jumat / 17-07-2026, 14:02 WIB
LG Sinar Mas Raih Penghargaan Rising Star SEA 2026 dari SAP
Jumat / 17-07-2026, 14:01 WIB
INNOPROM 2026 Jadi Titik Balik, Indonesia-Azerbaijan Sepakat Percepat Kerja Sama Industri
Jumat / 17-07-2026, 14:01 WIB
6 Platform Nonton Anime Legal Sub Indonesia Pengganti AnimeID
Jumat / 17-07-2026, 14:01 WIB
Sinopsis dan Jadwal Tayang Drakor Spooky in Love serta Link Streaming Netflix Sub Indo
Jumat / 17-07-2026, 13:43 WIB
7 Aplikasi Nonton Drama Pendek yang Bisa Menambah Saldo Dana Gratis di 2026
Jumat / 17-07-2026, 13:42 WIB
Ramalan Zodiak Cinta 17 Juli: Pisces Introspeksi Diri, Gemini Perbaiki Komunikasi
Jumat / 17-07-2026, 13:42 WIB
Anting Kuno Zendaya di Tur The Odyssey Diduga Hasil Penjarahan dari Iran
Jumat / 17-07-2026, 13:42 WIB
Supermodel Paulina Porizkova Nikah Lagi di Usia 61, Jodoh dari Aplikasi Kencan
Jumat / 17-07-2026, 13:42 WIB
HBA Batu Bara Kalori Tinggi Tembus US$131,85 per Ton pada Pertengahan Juli
Jumat / 17-07-2026, 13:32 WIB







