Hal itu mengalihkan perhatian dari persoalan tata kelola, ketimpangan pembangunan, penghilangan paksa, serta kegagalan menyediakan ruang bagi oposisi damai.

Safi juga mempertanyakan efektivitas operasi lintas batas Pakistan ke Afghanistan.

Meskipun Islamabad mengklaim berhasil menghancurkan kamp militan, belum ada konfirmasi independen mengenai tewasnya tokoh senior TTP sejak akhir 2025.

Sebaliknya, UNAMA mencatat ratusan warga sipil Afghanistan menjadi korban kekerasan lintas batas pada kuartal pertama 2026, dengan serangan udara sebagai penyebab utama.

Menurut Safi, membombardir Afghanistan atau memperketat perbatasan mungkin menunjukkan kemampuan militer Pakistan, tetapi tidak menyelesaikan persoalan mendasar di dalam negeri.

"Seorang tetangga tidak dapat menyediakan legitimasi yang gagal dibangun sebuah negara di antara warga negaranya sendiri," kata Safi.

Ia menegaskan Pakistan perlu meningkatkan keamanan perbatasan dan mencegah pergerakan kelompok militan, namun juga harus memperkuat otoritas sipil, melindungi organisasi politik damai, menyelidiki penghilangan paksa, dan memperlakukan tuntutan masyarakat Pashtun dan Baloch sebagai persoalan politik.

"Selama militansi masih memperoleh dukungan dari rasa keterasingan di dalam Pakistan sendiri, pemberontakan kemungkinan akan terus berlanjut.

>>> Jadwal Pembelian Tiket Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Ada Dua Tahap

Pusat krisis bukanlah Kabul, melainkan semakin lebarnya jarak antara negara Pakistan dengan banyak warganya sendiri," pungkas Safi.