Presiden Donald Trump menggunakan pidato kenegaraan pada Kamis malam untuk mendesak pengesahan undang-undang pemilu federal yang ketat.

Pidato yang disiarkan secara nasional itu bertepatan dengan dorongan legislatif untuk RUU identifikasi pemilih yang ketat.

>>> Portland Timbers Hajar Seattle Sounders 5-1, Catatkan Tiga Rekor Baru

Trump berbicara dari East Room Gedung Putih, menyebut reformasi pemilu sebagai kebutuhan mendasar bagi kehebatan bangsa.

"Amerika kembali dan berjalan sangat baik, tetapi kami masih memiliki tantangan besar yang harus segera diatasi, karena tidak ada negara yang bisa hebat tanpa pemilu yang adil dan jujur," kata Trump.

Ia juga merujuk pada operasi militer di Iran pada April lalu, di mana ia memperkirakan operasi akan berakhir cepat.

"Bagian yang sulit sudah selesai, jadi seharusnya mudah," ujar Trump.

Mantan pejabat intelijen langsung mengkritik pidato tersebut, menyoroti kekhawatiran atas narasi keamanan yang disampaikan pemerintahan.

Sue Gordon, wakil direktur utama intelijen nasional pada masa jabatan pertama Trump, menyebutnya sebagai "pidato berbahaya tentang topik yang sangat penting."

Gordon menyatakan ketidakpercayaannya bahwa pemerintahan mengabaikan peringatan dari badan intelijen yang sama yang sebelumnya dikritik.

Di dalam East Room, penasihat Gedung Putih membela pelepasan dokumen yang baru dideklasifikasi, meskipun mereka mengakui kurangnya bukti mengenai suara yang diubah.

>>> DPR AS Tarik RUU Veteran Kontroversial Setelah Debat Sengit

"Komunitas intelijen tidak memiliki bukti bahwa seseorang telah membalikkan suara pada 2020, '22, atau '24," kata John Solomon, staf Gedung Putih.

Solomon mengindikasikan bahwa pejabat terus menganalisis catatan publik yang baru.

Sementara itu, investigasi Wall Street Journal mengungkapkan bahwa kelompok terkait Trump telah mengumpulkan lebih dari $781 juta sejak pemilu 2024 melalui berbagai organisasi nirlaba dan lembaga budaya.