Presiden Donald Trump mengumumkan dokumen intelijen yang baru dideklasifikasi dalam pidato nasional pada Kamis, 16 Juli 2026.

Dokumen tersebut menyebutkan bahwa negara-negara asing, terutama China, menjadi ancaman bagi sistem pemilu Amerika Serikat.

>>> Napalm Death Guncang NPR Tiny Desk dengan Set Paling Brutal

Pejabat Gedung Putih mengatakan langkah ini bertujuan untuk mengatasi kerentanan sistem sebelum pemilu paruh waktu mendatang.

Namun, kritikus mencatat bahwa pemerintahan Trump sebelumnya telah menutup beberapa lembaga federal yang memantau pemilu.

Isi Dokumen yang Dideklasifikasi

Laporan Dewan Intelijen Nasional Januari 2020 memperingatkan bahwa Rusia, China, Iran, dan Korea Utara memiliki kemampuan untuk mengakses dan memanipulasi basis data pemilu terpusat.

Namun, dokumen yang sama mencatat bahwa karena pemilu AS dijalankan secara desentralisasi oleh yurisdiksi lokal, pelanggaran siber skala besar sulit dilakukan untuk mengubah hasil pemilu.

>>> Fosil T-Rex 'Gus' Terjual Rekor Rp900 M di Lelang

Pemerintahan Trump juga mengutip klaim mantan kepala intelijen Venezuela, Hugo "El Pollo" Carvajal, tentang manipulasi suara eksperimental pada sistem pemungutan suara Smartmatic.

Memo CIA yang dideklasifikasi membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa Venezuela dan Smartmatic tidak memiliki kemampuan teknis untuk memanipulasi hasil pemilu di luar Venezuela.

CIA menjelaskan bahwa manipulasi sistem pemungutan suara sebelumnya di Venezuela sangat bergantung pada akses orang dalam ke infrastruktur fisik.

>>> KKP Rilis Skema BBM Khusus Rp15.000 per Liter untuk Kapal Perikanan 30-200 GT

Seorang juru bicara Smartmatic menolak tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai "tuduhan yang sepenuhnya tidak berdasar dan berulang kali dibantah" tentang integritas sistem pemilu mereka.