Akar Masalah: Politik dan Keterasingan

Safi menilai akar persoalan Pakistan terletak pada struktur politik yang menempatkan otoritas militer di atas politik sipil dan memandang perbedaan pendapat di wilayah pinggiran sebagai ancaman keamanan.

Ia menyoroti pengalaman masyarakat Pashtun yang menghadapi dua tekanan: kekerasan dari kelompok militan dan tindakan koersif negara.

Pashtun Tahafuz Movement (PTM) muncul sebagai gerakan damai yang menuntut pertanggungjawaban atas pembunuhan di luar proses hukum, penghilangan paksa, ranjau darat, dan praktik kecurigaan kolektif.

Namun respons negara lebih banyak didominasi pendekatan keamanan dibanding dialog politik.

"Ketika politik damai diperlakukan sebagai subversi, negara melemahkan alternatif terhadap militansi yang justru diklaim dibutuhkan," tuturnya.

>>> Profil Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina

Kontradiksi serupa terlihat di Balochistan, provinsi kaya sumber daya alam yang masih dihantui kemiskinan, marginalisasi politik, dan minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya.

Penghilangan paksa telah menjadi bagian dari memori politik masyarakat Baloch.

Komisi Penyelidikan Pakistan mencatat 125 kasus baru penghilangan orang pada paruh pertama 2025, meskipun kelompok HAM memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar.

Safi juga menyoroti vonis penjara seumur hidup terhadap aktivis HAM Baloch, Dr. Mahrang Baloch, pada Juni lalu.

"Mahrang menjadi tokoh penting karena memberikan ekspresi damai terhadap penderitaan keluarga yang mencari kerabat mereka yang hilang.

Vonis seumur hidup terhadap figur seperti itu memberi pesan kepada banyak pemuda Baloch bahwa mobilisasi damai tidak menghasilkan dialog, melainkan penjara," ucapnya.

Safi menilai Afghanistan sering menjadi penjelasan eksternal yang nyaman bagi Islamabad. Namun penjelasan tersebut bermasalah jika digunakan sebagai satu-satunya penyebab krisis yang memiliki akar domestik dalam.